Sabtu, 07 September 2019

Buruk Rupa Investasi di Indonesia, Kisah Tragis Investor Jepang Ditipu 120 M





Bagaimana kabar iklim investasi di indonesia saat ini? Sungguh mengerikan! Tidak mudah,  tidak cerah, buruk rupa wajah. Belakangan sisi gelap investasi di indonesia mulai terkuak.

Hati-hati jangan pernah anda mengalaminya. Ini bukan hoax. Apalagi fiktif. Cobalah simak narasi video berikut ini. Nyata-nyata investor Jepang ini dibuat terseok-seok di indonesia, ditipu habis-habisan. Dia terdzolimi!


Sekilas Hubungan Dagang RI-Jepang
Sejujurnya hubungan investasi Jepang - Indonesia sudah baik dari tahun ke tahun angkanya bertambah dan cenderung stabil. Jumlah investasi langsung asing di Indonesia dari tahun 1967 hingga 2007 Jepang menduduki tempat pertama dengan angka 11,5 % dalam keseluruhannya.

Terdapat kurang lebih 1000 perusahaan Jepang beroperasi di indonesia. Perusahaan-perusahaan ini/ memperkerjakan lebih dari 32 ribu pekerja Indonesia yang menjadikan Jepang sebagai negara penyedia lapangan kerja nomor satu di indonesia. Bagi indonesia, Jepang juga merupakan negara mitra dagang terbesar dalam hal ekspor-impor.

Komoditi penting yang diimpor Jepang dari Indonesia antara lain : minyak, gas alam cair, batubara, hasil tambang, udang, pulp, tekstil dan produk tekstil, mesin, perlengkapan listrik, dll. Sementara barang-barang yang diekspor Jepang ke Indonesia meliputi mesin-mesin dan suku-cadang, produk plastik dan kimia, baja, perlengkapan listrik, suku-cadang elektronik, mesin alat transportasi dan suku-cadang mobil.

Jangan heran jika banyak investor asal negeri samurai itu berdatangan ke Indonesia. Bahkan setiap presiden Indonesia tak pernah luput menjalin kerjasama bilateral bersama pimpinan negara Jepang tak terkecuali Presiden Jokowi.

Presiden terpilih kali kedua ini sempat mewanti-wanti siapa saja yang menghambat investasi asing di indonesia dipastikan akan dihajar!!!

Namun demikian pidato berapi-api Presiden Jokowi itu berbanding terbalik dengan pengalaman dan nasib Takeshi Abe. Pengusaha asli Jepang ini bukannya dianugerahi kemudahan dan kelancaran dalam berinvestasi di indonesia, eh malah ditipu.

Uang investasinya seketika digelapkan. Nominal yang ditipu dan digelapkan tidak tanggung-tanggung, 120 miliar rupiah! Sekali lagi saya katakan seratus dua puluh miliar rupiah! sungguh jahat bukan.

Kronologi Kasus 120 M
Pada tanggal 31 oktober 2013 telah disepakati jual beli tanah dan bangunan Hotel Hillside yang berlokasi di Jl. TB. Simatupang no. 09 Jakarta Selatan antara PT. Grand Puri Permai (PT. GPP) selaku penjual dengan PT. Tokyu Land Lndonesia (PT. TLI) selaku pembeli dengan harga Rp. 332.079.000.000,00 (tiga ratus tiga puluh dua miliar tujuh puluh sembilan juta rupiah).

Sebagai realisasinya maka terlebih dahulu ditandatangani preliminary agreement (perjanjian pendahuluan). Kemudian pada tangal 13 maret 2014 nanti ditingkatkan dengan penandatanganan conditional sale and purchase agreement (perjanjian pengikatan jual beli).

Sebagai bentuk komitmen untuk terlaksananya perjanjian jual beli atas tanah dan bangunan tersebut, pihak PT. TLI diwajibkan untuk memberikan security deposit (setoran jaminan) kepada PT. GPP disepakati sebesar Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah).


Awalnya disepakati disetorkan ke rekening PT GPP, namun pada saat penandatanganan perjanjian pendahuluan dimaksud, Adhi Irawan Anondo selaku Direktur Operasional mempercayai setoran jaminan Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah) dimaksud dititipkan di luar rekening PT GPP.


Selanjutnya Adhi Irawan Anondo dengan sengaja menelpon Theodorus Andri Rukminto yang diketahui Adhi Irawan Anondo sebagai Direktur Utama PT. Andalan Artha Advisindo Sekuritas (AAA Sekuritas) untuk menitipkan setoran jaminan Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah).


Setelah ada kesepakatan lisan antara Adhi dan Andri terhadap penitipan setoran jaminan dimaksud, selanjutnya Andri mengirimkan sms nomor rekening 1240.001.797.002 kepada Adhi yang ternyata adalah nomor rekening PT. Anugrah Laras Kapitalindo (PT. ALK) untuk menerima penitipan setoran jaminan Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah) tersebut.

Pada tanggal 1 November 2013 Setoran jaminan Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah) tersebut ditransfer Oleh pihak PT TLI dari Bank Mizuho Indonesia nomor rekening: 316919-0151 ke rekening 1240.001.797.002 Bank Qnb Kesawan atas nama PT. ANUGRAH LARAS KAPITALINDO dan telah diterima oleh Andri pada tanggal 1 November 2013

Hal ini juga sesuai dengan surat email Andri Rukminto yang ditujukan kepada Ichiro Isozaki dan Adhi Irawan Anondo dengan menggunakan kop surat PT. AAA Pekuritas. Setoran jaminan Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah) tersebut akan dikembalikan oleh PT GPP kepada PT TLI setelah dilaksanakan pembayaran tahap I tanggal 13 maret 2014.

Andri telah mengetahui bahwasanya uang setoran jaminan sebesar Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah) itu adalah titipan dan pada waktunya akan diambil oleh pihak PT GPP. Penitipan tersebut dilakukan karena adanya hubungan pertemanan antara Adhi selaku Direktur Operasional PT GPP dengan Andri selaku Direktur Utama PT AAA Sekuritas yang sama-sama satu sekolah SMA. Serta adanya saling kepercayaan.


Namun tanpa seizin dan sepengetahuan pihak PT GPP, Andri telah menggunakan uang setoran jaminan Rp 120.000.000.000,00 (seratus dua puluh miliar rupiah) tersebut dengan memerintahkan Esther Lisawati Soemarto yang merupakan Direktur Utama PT ALK untuk melakukan pembayaran dari rekening nomor : 1240.001.797.002 ke rekening lain, dan juga telah dilakukan tarik tunai oleh saksi Esther.



Penuturan Takeshi Abe
Takeshi abe adalah pengusaha asing asal Jepang yang bergerak di bidang properti. Pria berusia 78 tahun ini mencintai Indonesia dan telah merasa nyaman hidup di indonesia. Investor internasional ini bermukim di indonesia khususnya di jakarta sudah 35 tahun lebih. Sebagai korban penipuan dan penggelapan investasi tentu ia sangat kecewa. Berikut penuturannya:

Pada tanggal 1 november 2013 kami titipkan uang setoran jaminan itu ke rekening PT ALK. Saat itu kami sudah meminta Andri Rukminto agar menjaga uang setoran jaminan ini selama tiga bulan. Karena setelah tiga bulan, kami harus kembalikan uang setoran jaminan itu kepada PT TLI. 

Kami juga menegaskan kepada Andri agar jangan sampai digunakan untuk kebutuhan besar. Tapi kemudian kami tidak mengontrolnya secara detail. Kami justru baru tahu kemudian setelah uang itu dihabiskan dalam waktu beberapa jam saja di hari Senin. Ada bukti tertulisnya. Banyak sekali transaksi yang dia lakukan hari itu. 

Kemudian pada Desember 2014, kami laporkan kejahatan ini ke BARESKRIM MABES POLRI. Lalu dia (Andri Rukminto) diperiksa polisi dan ditahan dengan tuduhan pasal penipuan, penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (money laundry). Bagaimanapun itu dia (Andri Rukminto) telah bertindak kriminal. Hingga saat ini uang itu belum ada yang dikembalikan. 

Saya sebenarnya sudah tidak bisa banyak bicara. Mereka ini kriminal yang telah melakukan tindakan money landry. Uang ditransfer ke berbagai rekening. Beberapa transaksi pembayaran ke lembaga sekuritas, perusahaan dan sebagainya.
 

Bagi mereka yang menerima uang itu juga harus mengembalikan kepada kami. Sejauh ini belum ada satu pun penerima uang itu mengembalikan. Kami tidak tahu, kami hanya bisa mencoba mengumumkan di sini agar ada siapapun yang bisa menolong kami. 

Saya ingin ungkapkan agar uang saya dikembalikan. Saya bisa ciptakan peluang bagi orang indonesia. Saya tidak akan membawa pulang ke Jepang uang ini. Saya harap dapat kembali berinvestasi di sini. Kalau pun saya dapat, uang ini akan dikembalikan sebagai peluang untuk orang-orang Indonesia. Saya tidak akan pergi dari sini (Indonesia). Saya harap pemerintahan Indonesia dapat menemukan jalan terbaik agar para investor menjadi senang. Jika investor senang, rakyat Indonesia pun akan senang.

Para Penerima Aliran Dana Haram
Memang satu penipu dan penggelap uang itu telah divonis 10 tahun penjara yakni Theodorus Andri Rukminto. Tapi satu orang telah kabur jauh ke Prancis yaitu Esther Lisawati Soemarto dan satu orang lagi, Raden Zam Zam Reza masih bebas melenggang dengan hartanya yang berlimpah di Jakarta dan berbagai daerah di indonesia.


Namun harapan dan tujuan Takeshi Abe yang sebenarnya adalah bukan Andri Rukminto dipenjarakan. Tapi yang terpenting adalah pengembalian dana yang digelapkan.  Upaya hukum tidak berlanjut alias mandeg. Tidak ada tindakan tegas terhadap Esther Lisa maupun Zamzam Reza, untuk memproses hukum dan menyita aset mereka!


Bahkan Abe dan tim hukumnya sudah berikhtiar menempuh segala cara dalam koridor hukum. Melaporkan kembali sindikat pelaku itu ke BARESKRIM tapi tidak ditindaklanjuti. Termasuk mengadukannya ke Komisi III DPR RI juga tak membuahkan hasil.

Kini tim kuasa hukum Takeshi Abe menempuh jalur hukum perdata yang akan digelar pada September 2019 untuk menggugat para penerima uang haram itu antara lain:

  1. PT Grand Kartech Tbk Rp 65,1 miliar
  2. Bank BPD Nusa Tenggara Timur (NTT) Rp 15,2 miliar
  3. Bank BPD Maluku Rp 32,1 miliar
  4. Bank Antar Daerah Cabang Surabaya Rp 18 miliar
  5. PT Sarana Steel Rp 12 miliar
  6. Bank BUMIPUTERA Rp 5,9 miliar
  7. PT Victory Investa Artha Rp 3 Miliar
  8. PT Victoria Sekuritas Rp 8,1 miliar
  9. Perkumpulan Aloysius Rp 12,4 miliar


Dan uang lainnya yang masuk ke rekening milik PT. ANDALAN ARTHA ADVISINDO SEKURITAS (AAA SEKURITAS), PT ANUGRAH LARAS KAPITALINDO (PT. ALK), rekening pribadi Theodorus Andri Rukminto dan Esther Lisawati Soemarto.


Sungguh miris menyimak aliran dana terlarang itu masuk ke berbagai kantong pribadi dan instansi. Apakah pemerintah saat ini sudi memfasilitasi agar uang itu dikembalikan kepada pemiliknya?

Sudah seharusnya OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengontrol dan mengawasi seluruh perusahaan sekuritas milik siapapun secara rutin dan konsultan keuangan. Karena pada kenyataannya berinvestasi dan berbisnis di indonesia tak selalu untung malah jadi buntung!

Belakangan bahkan realisasi penanaman modal asing (PMA) sepanjang 2018 sebesar 392,7 triliun‎, turun 8,8 persen dibandingkan 2017 yang mencapai angka 430,5 triliun rupiah.

Anjloknya realisasi PMA tersebut menyebabkan pertumbuhan investasi sepanjang 2019 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Sisi gelap investasi ini menjadi pelajaran bagi siapa pun untuk senantiasa berhati-hati dan waspada. Buruk rupa investasi di indonesia itu harus segera dibenahi dan ditindak!

Negara indonesia yang berdaulat ini wajib menegakkan hukum yang tegas. Jangan sampai ada tebang pilih dalam penegakan hukum. Sebab hal ini sangat berpengaruh terhadap iklim investasi dan bisnis di indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar